Oleh: Hafney Maulana
Sebagaimana masyarakat pada umumnya, sekolah sebagai masyarakat (Mini Sosiety) harus bertanggung jawab dalam upaya mencintakan budaya belajar bagi seluruh komponen yang menjadi binaannya. Pembentukan karakter melalui pendidikan budi pekerti merupakan program pendidikan untuk menciptakan kondisi dan suasana kondusif. Pendidikan budi pekerti dilaksanakan setiap saat selama kurun waktu berlangsungnya kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah dengan melibatkan seluruh masyarakat sekolah.
Budaya dapat diartikan sebagai hasil cipta, rasa, karsa dan karya manusia, bila diartikan dengan belajar maka budaya itu merupakan suatu usaha masyarakat sekolah di bawah kepemimpinan kepala sekolah untuk menciptakan kondiski belajar yang mendukung dan menyenangkan terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar, baik di lingkungan para pendidik, siswa, karyawan dan segenap penyelenggara pendidikan itu sendiri. Untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok menegement, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Pelaksanaan management sekolah yang efektif dan efisien tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang kegiatan management pendidikan di sekolah, diharapkan memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan dan sekaligus dapat menunjang terciptanya budaya belajar yang dinamis.
Personil sekolah memegang peranan penting dalam upaya menciptakan budaya belajar. Gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu cara yang digunakan dalam mempengaruhi para pengikutnya sangat menentukan terciptakan budaya belajar. Karena gaya kepemimpinan itu merupakan pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi pengikutnya. (Molyasa, 2003 : 108)
Sebagai pelaksana kurikulum, guru mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan budaya belajar yang efektif dan efisien bagi setiap siswa. Disamping tugas guru sebagai pengajar, pendidik dan pelatih, guru juga harus memerankan dirinya sebagai teladan yang baik dimana saja ia berada.
Personil yang tak kalah penting adalah para karyawan kantor, karyawan pustaka, laboratorium dan lain-lain. Disadari atau pun tidak, kegiatan mereka sehari-hari akan menjadi cermin bagi semua warga sekolah.
Menciptakan budaya belajar di masyarakat sekolah merupakan upaya yang positif untuk mencapai keberhasilan tujuan sekolah. Bermula dari penataan sarana dan prasarana, kurikulum, tenaga pendidik, organisasi sekolah dan lingkungan sampai kegiatan belajar mengajar, semua diatur dan dibentuk sedemikian rupa agar budaya belajar yang diinginkan berhasil menjadi kenyataan.
Setidaknya ada 4 (empat) langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menciptakan budaya belajar yang sehat.
a. Renovasi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Gaya kepemimpinan lama yang menekankan kepada sentralisasi management dikembangkan atau diperbaiki menjadi desentralisasi management dengan pola Management Berbasis Sekolah (MBS) yang ditandai dengan otonomi sekolah dan keterlibatan masyarakat untuk meningkatkan efesiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Melalui renovasi gaya kepemimpinan kepala sekolah diharapkan dapat memperanaktifkan personil-personil management sekolah dan sekaligus mampu menjadikan organisasi sekolah sebagai organisasi yang dinamis dalam mewujudkan budaya belajar yang efektif dan efisien. (Mulyasa, 2003: 20)
b. Menciptakan Lingkungan Belajar Yang Menyenangkan
Yang dimaksud lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berada di lingkungan anak didik, baik yang berupa keluarga, sekolah maupun masyarakat. (Sutari Ima Barnaibib, 1982: 118)
Lingkungan belajar merupakan faktor pendidikan yang penting, sebab pengaruh budaya lingkungan banyak mewarnai kualitas pendidikan anak. Oleh karena itu penciptaan lingkungan belajar yang kondusif sangat diperlukan demi terwujudnya budaya belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Peran guru dan orang tua dalam upaya menciptakan budaya belajar ini sangat penting, karena guru dan orang tua masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik untuk menuju kedewasaan yang sempurna
c. Menegakkan Tata Tertib / Peraturan Sekolah
Yang dimaksud tata tertib / peraturan sekolah adalah ketentuan atau rambu-rambu yang digunakan untuk memberi arah atau pedoman yang telah dibuat dan disepakati untuk diterapkan oleh sekolah. Tata tertib / peraturan ini berupa kode etik guru, siswa serta petunjuk kerja karyawan yang intinya berupa penegasan nilai-nilai luhur yang harus dihormati dan dipatuhi oleh warga sekolah
d. Meningkatkan Profesionalisme Pendidik
Keberhasilan MBS sangat ditentukan oleh keberhasilan pimpinannya dalam mengelola tenaga pendidikan yang ada di sekolah. Guru sebagai pendidik adalah bagian dari personil pendidikan yang bertugas untuk membentuk pribadi anak didik menuju kedewasaan yang sempurna. Peningkatan profesionalisme guru dapat dilakukan dengan meningkatkan perilaku manusia di tempat kerja melalui aplikasi dan teknik management personalia modern. (Molyasa, 2003 : 42)
Dalam rangka upaya mencipatakan budaya belajar yang sehat, guru sebagai pendidik harus berkreasi dalam meningkatkan management kelas. Guru adalah teladan dan panutan, oleh karena itu guru siap dengan segala kewwajiban, baik management maupun materi pengajaran. Suasana kelas yang menyenangkan sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar anak didik.
Semoga dengan penerapan 4 (empat) langkah praktis di atas dapat menciptakan budaya belajar bagi personil dan organisasi sekolah sebagai yang kita harapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar