Senin, 01 November 2010

PUISI, WALAU PUN PELIK TAPI BERMAKNA

Oleh: Hafney Maulana

Sudah banyak tulisan dan pembicaraan tentang puisi. Memang puisi adalah suatu yang menarik untuk dibicarakan, karena puisi lahir dari renungan dan pengalaman yang dalam dari seorang penyair.
Dalam kehidupan manusia yang dihadapkan dengan berbagai macam problema, tidak akan terlepas dengan namanya puisi. Sebab selagi membincangkan masalah kehidupan, maka ia pun memperbincangkan puisi.
Manusia tak dapat hidup tanpa puisi. Tak ada puisi tanpa kehidupan, masalah puisi adalah masalah hidup dan kehidupan. Puisi mengalir dalam hidup, bergerak dalam hidup dan membuka, mengembang bersama ke-aku-an kita lahir bathin. Hidup kita adalah manifestasi puitis.
Pada setiap zaman puisi selalu mendapat tempat di hati pencintanya. Puisi mempunyai fungsi yang istimewa saat ini, walau pun peminatnya masih sangat terbatas, karena banyak orang yang tidak mampu mengartikan makna yang terkandung dalam sebuah puisi. Sebenarnya sebuah puisi bukanlah untuk dipahami atau untuk dimengerti, puisi adalah manifestasi kehidupan harena ia adalah seni dari segala seni.
Selama kesenian ada, maka dunia ini penuh dengan puisi. Tak dapat dipungkiri memang kehidupan ini penuh dengan puisi. Mengapa kita senang melihat ombak menghempas pantai, melihat bulan, mendengarkan burung berkicau, merasa terharu pada sesuatu, karena hidup itu adalah memuisi.
Rudyard Kipling, seorang penyair Inggris mengatakan bahwa puisi mempunyai kekuatan untuk menggugah hati manusia dan mengangkah derajat hidup manusia sesuai dengan kedudukannya. Pada suatu ketika penyair Muhammad Iqbal, membacakan sajaknya yang berjudul ”Jangan Melalaikan Waktu” di hadapan filosof Hendri Bergson yang waktu itu sedang sakit lumpuh. Bayangkan, sepontan ia melompat dari kursinya setelah mendengar sajak Iqbal itu. Memang Iqbal dengan puisi-puisinya sarat dengan filsafat, waktu, budaya dan politik.
Sebuah puisi yang baik adalah lebih bernilai dari sepuluh novel konyol, kata penyair Abdul Hadi WM dalam sebuah pertemuan sastrawan di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. Nabi Muhammad SAW, pernah berkata kepada seorang penyair Ka’ab bin Malik, ”sesungguhnya orang mukmin berzihad dengan pedang dan lidahnya. Demi Allah sesungguhnya serangan anda terhadap mereka dengan sajak-sajak anda, laksana lemparan anak panah yang tajam.”
Banyak orang yang beranggapan, puisi adalah sebuah karya sastra yang sulit, karena harus memerlukan perenungan. Puisi bukan hanya memikul bobot berat dari isinya, tetapi juga setiap baris yang dikemukakannya. Bahasa puisi memiliki karakter tersendiri yang dalam istilah bahasa disebut ’bahasa konotasi’. Bahasa konotasi ini tidak saja di dukung oleh arti material tetapi banyak berorentasi pada pengertian-pengertian non fisik yang ditopang oleh simbol-simbol emosi dan suasana hati yang kadang-dang mengandung pengertian imajinasi. Oleh karena itu puisi lahir dari pertemuan dunia bathin sumber inspirasi dan dunia bathin penyairnya. Itulah sebabnya setiap pengucapan harus lolos dari seleksi seleksi suasana bathin yang ditunjang unsur bunyi, bobot rasa, efektivitas dan lain-lain.
Puisi adalah suatu yang pelik. Sesuatu yang pelik itu biasanya cenderung jadi terasing. Sekuntum puisi menjadi tak terpahami hakekatnya jika bersifat pelik, demikian kata Tajuddin Noor Gani.
Seorang pengamat sastra barat J.J Moreno berkata: ”pelik atau tidaknya sekuntum puisi sebenarnya yang lebih penting adalah efeknya. Sekuntum puisi mampu merangsang perbuatan heroik”
Puisi, barang buatan manusia. Barang mainan seperti halnya ketapel atau sebilah pisau. Sebagai mainan mungkin saja dianggap wajib, produksi yang dianggap pokok bahkan sakral, religius, penuh cinta kasih dan terlalu romantis untuk diabaikan. Ia demikian pentingnya, tapi mungkin juga hanya agak penting atau tak penting sama sekali. Seperti juga barang mainan yang lain, ia hanya diadakan.
Benarlah apa yang dikatakan Sapardi Jokodamono, bahwa kalimat dalam puisi tak ubahnya bagai tangga, alat untuk mencapai tujuan. **